Banyak orang tua berpikir 1000 kali untuk memasukkan anaknya ke dalam sekolah militer.
Alasannya bermacam-macam. Ada yang takut anaknya tidak mampu beradapatasi, tidak biasa disiksa, atau bahkan takut anaknya berakhir tragis karena penyiksaan oleh senior. Well, actually their concerns are not totally proven. Bahkan yang membuat telinga saya semakin panas banyak statements di berbagai forum yang mengatakan “bagaimana nasib bangsa kita jika sekolah seperti ini terus didirikan? “. Come on guys, i was the person who still alive after graduating in my schools.
So, kali ini saya akan memberikan sisi positif dari “additional schedule” yang ada di sekolah semi militer. Dan pastinya, kegiatan ini tidak ada di sekolah menengah ke atas pada umumnya.
BASIS
Sebagai siswa baru banyak ritual yang harus dilewati. Seperti selama 3 bulan pertama tidak diperkenankan melakukan ineraksi dengan keluarga dalam bentuk apapun. Tujuannya adalah untuk membentuk pondasi awal kemandirian, salah satunya melatih homesick. Selama masa-masa ini yang paling kusukai adalah basis. Yaitu saat dimana kita dilatih mental dan fisik dengan lintas alam dalam 1 hari.
Mungkin bagi yang tidak biasa agak sedikit menjijikkan. Tapi percaya deh, ini seru banget! Kegiatannya tidak semata-mata melintasi parit sepanjang hari tapi juga melewati hutan, sungai , dsb. tujuan lain dari basis ini adalah melatih kebersamaan atau korsa antar siswa seangkatan.
SENAM SUBUH, APEL PAGI, APEL SORE, APEL MALAM

Ini merupakan kegiatan rutin yang wajib dilakukan kecuali anda sakit, ada kegiatan lomba, ataupun kegiatan internal asrama lainnya. Jujur , yang paling berat saat tahun pertama yaitu senam subuh. Bayangkan saja kalian harus bangun ja 4 pagi dengn suara lonceng berdering untuk senam. Alhasil, sikap push up yang seharusnya terlihat keren, jadi seperti ikan duyung berenang. Tujuan dari APEl ini sendiri yaitu menggalang kedisplinan dan kebersamaan. SENAM untuk kesehatan pastinya.
MAKAN PAGI, SIANG, dan MALAM
Sebagai siswa berasrama , tentu banyak hal yang dilakukan secara bersama-sama. Salah satunya adalah kegiatan makan. Anak asrama indetik dengan kata “ompreng”. Yaitu tempat makan stainless di desain sebagai piring untuk komunitas dalam jumlah yang besar. Kegiatan ini pun selalu dilakukan bersama-sama. Salah satu ritual kesenirotasan dalam kegiatan ini adalah mendahuukan senior kita untuk mengambil nasi terlebih dulu, dan mesunahkan yunior untuk menuangkan air minum ke gelas senior. Tidak usah mikir yang macam-macam, kegiatan semacam ini justru makin mengikat silaturahmi. Karena di meja makanlah senior dan yunior biasanya lebih dekat.
PENDADAKAN
Selama 2 tahun sebagai yunior, mungkin kegiatan ini yang paling tidak dinanti. Kegiatan ini adalah aktivitas dadakan yang bertujuan untuk mengevaluasi sikap dan prilaku yunior yang dianggap semakin menyimpang dan membludak. Cara mengumplkan yunir pun juga dadakan. Biasanya antara jam 1 sampai jam 4 pagi. Dan yang paling mendebarkan adalah bunyi lonceng seperti simulasi kebakaran :p. Kadang suasananya jauh lebih mencekam ketika lampu dimatikan. Untuk saya yang tidak bisa gelap. Hal ini agak merepotkan. Lantas apa saja kegiatan yang ada di dalamnya. Yah seputar PUSH –UP, SIT UP, MERAYAP, LARI, dsb. Kegiatan ini tidak sepenuhnya menegangkan, justru menurut saya kegiatan ini paling banyak meninggalkan memori ketika anda sudah lulus nanti.
PROMPT NIGHT?
Kegiatan ini biasanya ada di akhir masa sekolah SMA pada umumnya. Tapi tidak di sekolah kami. Karena kegiatan kelulusan justru diisi dengan baris-berbaris, pengucapan sumpah, serta pengalungan melati dan pelepasan topi. Sedikit kaku memang. Tapi, justru farewell party lebih terasa disini. Karena kita punya adik asuh dan teman-teman yang menyambut ketika acara ini selesai. Tidak jarang acara ini biasa diakhiri dengan linangan air mata ( lebay, tapi bener).
Masih banyak kegiatan di luar sekolah formal lainnya. Yang intinya kegitan tambahan ini bertujuan untuk menanamkan kedisplinan, kebersamaan, dan rasa nasionalis tentunya. Tidak usah ditanyakan soal kelebihan. Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari semua kegiatan ini. Terlepas dari penyiksaan, intimidasi, bahkan sampai merengut jiwa. Malah banyak kenangan yang sampai saat ini kalo saya inget, saya pasti tertawa lagi. Bahkan sekolah semacam ini, justru dapat lebih mengikat tali silaturahmi walau sudah menikah sekalipun. So, do not underestimate semi-military schools.
















